Santai Saat Anak Jatuh, Apakah Aku Orang Tua Terlalu Santuy?
11.40.00Sebenernya agak awkward juga nih udah lama banget gak nulis blog. Mohon maaf lahir batin. Balik - balik udah jadi ibu beranak 1 dan setengah-karena sedang mengandung. Hehe.
Semoga tulisanku bisa diterima oleh khalayak ramai. Aamiin.
Ditengah wabah covid ini, aku lagi ngerasa buntu dan mumet banget. Setiap waktu kayaknya cuma ada pemberitaan covid ini dan itu. Jujur aja, gak ada satupun berita yang bikin aku jadi tenang. Untuk itu, aku mau nulis ajalah. Temanya tentang kehidupan aja. Biar janinku juga ikutan happy gak worry terus. Cus lanjut.
Dulu, aku pernah beberapa kali dibilang "orang tua santuy" sama beberapa orang. Biasanya karena liat aku santai saat anak jatuh atau kejedut. Bisa juga karena liat aku yang santai kalo anakku main di daerah yang rawan kejedot. Lari sana sini, sok weh mangga.
Jawabannya adalah karena aku gak pernah khawatir kalo anakku jatuh. Amit - amit, atau terluka.
Santai saat anak jatuh = Tidak peduli anak ?
Mungkin terkesan agak "kejam" ya, kalo aku bilang aku ga terlalu khawatir kalo anakku jatuh. Tentu, skala jatuhnya kecil dong. Kalo anakku jatuh dari tempat yang tinggi ya pasti aku was - was juga.
Alasannya bukan aku gak perduli, tapi aku membiarkan anakku mengenal rasa sakit.
"Bahwa sakit itu gak apa - apa, loh. Bahwa kamu jatuh itu gak apa - apa".
Aku selalu percaya anak itu pintar. Mereka akan belajar melalui pengalaman mereka. Kalo aku selalu jagain mereka, gak membiarkan mereka merasakan rasa sakit, lalu kalo gak ada aku gimana? Nanti anakku gimana?
Ketika anak itu jatuh, aku yakin, mereka akan belajar bagaimana ke depannya biar mereka ga jatuh lagi. Oh iya, kemarin aku kejedot, berarti sekarang harus hati - hati ya. Lalu memori itu akan mereka simpan untuk bekal besok hari.
Kurang lebih itu sih yang aku pikirin. Itulah kenapa dari bayi banget, kalo anakku kejedot atau nyusruk karena latian ngerangkak, ya aku gak apa - apa. Aku tau, anakku akan belajar kedepannya untuk apa.
Jujur, itulah yang aku rasain ke anakku sekarang. Ya kalo dia kejedot meja atau besi aja santuy banget dan bilang, "aku gapapa bu", malah aku kadang suka was - was, ni anak beneran gapapa gak sih?
Jadi, ketika aku santai saat anak jatuh bukan berarti aku gak peduli. Tapi, aku membiarkan anakku belajar menerima rasa sakit.
Hal yang Harus Diperhatikan Saat Anak Jatuh
Dulu, waktu anakku sakit aku selalu bilang, "gak papa, nak". Selain untuk nenangin, tujuan lainnya adalah biar aku kasih afirmasi baik ke dia. Bahwa jatuh itu gapapa kok nak.
Tapi, semakin kesini aku belajar ternyata hal itu gak 100% bener dilakukan lho-menurutku-. Pasalnya, kalo kita cepat - cepat 'mengalihkan' rasa sakitnya, ditakutkan anak malah terbiasa mengenyampingkan rasa sakit dia. Tentu gak baik dong untuk dia ke depan.
Biasanya, aku melakukan hal ini ketika anak jatuh:
1. Memeluk dan Menenangkan
Kalo anak gak nangis, aku biasanya peluk sebentar sembari bertanya apakah ada yang sakit, ada yang luka ga? Atau kamu gak apa apa?
Sebisa mungkin tanya anak dengan nada yang netral dan tenang ya, agar anak ikut tenang juga.
2. Obati lukanya dan Berdoa
Biasanya kalo anakku luka, aku obati kemudian ajak anak berdoa. Sederhana sih, aku mau anakku senantiasa melibatkan Allah disegala kegiatannya. Bahkan ketika dia jatuh, ya bergantung sama Allah dulu baru sama orang.
3. Ketika Anak Menangis
Apabila anak nangis, biarkan dia menangis hingga tenang ya. Jangan meminta anak untuk berhenti menangis. Soalnya, ketika anak menangis itu tandanya dia lagi mengeluarkan emosinya. Dia kesel, dia kesakitan, atau dia malu. Jadi biarkan aja dulu, biar emosinya keluar semua. Setelah tenang baru ikuti langkah 1 dan 2 ya.
Sebenernya alasan aku dan suami sepakat untuk santai saat anak jatuh karena tujuan pendidikan dalam keluarga kita sih. Aku pribadi pingin anak - anakku mandiri. Sehingga ketika aku dan suami meninggal (ya kan kita gak tau ya umur sampai kapan hehe), mereka bisa mengandalkan diri mereka sendiri.
Kembali lagi sih, pola asuh memang tergantung dengan tujuan kita mendidik anak. Kalo kamu, apa yang sudah dan/atau kamu ajarkan ke anak? Apa kamu santuy juga kaya aku? Hihi
0 comments