Saya belajar dari Ibu saya bahwa level terakhir dalam
mencintai adalah ketika bisa menerima dan mengikhlaskan. Kata ikhlas ini
direpresentasikan oleh Ibu saya melalui tindakannya yang ikhlas memaafkan
ketika Ayah saya (pernah) menyakiti Ibu saya. Bukan maksud membuka kejahatan
Ayah saya, tapi bukannya setiap pasangan pasti pernah menyakiti? Pernah saling
menangis? Saling berteriak? Begitu juga dengan Ayah dan Ibu saya.
Tapi saya
memang tak habis fikir, tampaknya Tuhan sedang bahagia waktu ‘menciptakan’ hati
Ibu saya karena hati Ibu saya begitu ikhlas. Sampai saya saja tidak yakin bisa
mencapai level terakhir dalam mencintai a la Ibu saya.
Bagaimana dengan saya?
Menurut saya level terakhir dalam mencintai adalah ketika
juga bisa mengikhlaskan dan menerima. Ikhlas disini saya representasikan dalam
tindakan merelakan. Ikhlas. Rela.
Mengapa begitu? Kenapa tidak mempertahankan untuk tetap
bersama?
Karena menurut saya hubungan itu adalah ketika dua orang
yang berjuang untuk bertahan. Bukan satu orang yang berjuang. Hubungan itu
team, bukan single fighter. Apalah arti kebersamaan jika memang perasaan tidak
lagi sama? Hem, maksud saya begini. Memang dalam menjalani hubungan, perasaan
tak melulu sama. Kadang merasa sayaaang sekali, kadang kesaaaal sekali. Kemarin
masih tertawa, hari ini belum tentu sama. Tapi, apa makna dari kebersamaan jika
hati tak benar-benar sama. Tak benar-benar saling menyayangi. Tak benar-benar
saling membutuhkan.
Saya sering mendengar curhatan teman saya tentang pacarnya
yang gamau putus-putus. Dan dia juga gabisa mutusin, karena kasian. Sekali lagi
saya bertanya, apa arti sebuah kebersamaan jika hanya berdasar pada rasa kasian?
Menurut saya, mengapa level terakhir mencintai menurut
pandangan saya adalah mengikhlaskan dengan cara merelakan? Karena boleh jadi
ketika melepaskan, dia-orang yang kita sayang-bisa mendapatkan orang yang lebih
baik daripada kita dan membuatnya
bahagia. Bukankah rasa menyayangi paling tinggi adalah ketika melihat orang
yang kita sayang bahagia? Jika bersama dengan kita tidak membuatnya bahagia dan
kita tetap mempertahankan. Apakah itu namanya mencintai? Saya rasa tidak.
Oh Tuhan, dengan pemikiran saya seperti ini. Saya harap saya masih bisa menikah nanti.