Level terakhir

09.22.00



Saya belajar dari Ibu saya bahwa level terakhir dalam mencintai adalah ketika bisa menerima dan mengikhlaskan. Kata ikhlas ini direpresentasikan oleh Ibu saya melalui tindakannya yang ikhlas memaafkan ketika Ayah saya (pernah) menyakiti Ibu saya. Bukan maksud membuka kejahatan Ayah saya, tapi bukannya setiap pasangan pasti pernah menyakiti? Pernah saling menangis? Saling berteriak? Begitu juga dengan Ayah dan Ibu saya. 
Tapi saya memang tak habis fikir, tampaknya Tuhan sedang bahagia waktu ‘menciptakan’ hati Ibu saya karena hati Ibu saya begitu ikhlas. Sampai saya saja tidak yakin bisa mencapai level terakhir dalam mencintai a la Ibu saya.

Bagaimana dengan saya?

Menurut saya level terakhir dalam mencintai adalah ketika juga bisa mengikhlaskan dan menerima. Ikhlas disini saya representasikan dalam tindakan merelakan. Ikhlas. Rela.

Mengapa begitu? Kenapa tidak mempertahankan untuk tetap bersama?

Karena menurut saya hubungan itu adalah ketika dua orang yang berjuang untuk bertahan. Bukan satu orang yang berjuang. Hubungan itu team, bukan single fighter. Apalah arti kebersamaan jika memang perasaan tidak lagi sama? Hem, maksud saya begini. Memang dalam menjalani hubungan, perasaan tak melulu sama. Kadang merasa sayaaang sekali, kadang kesaaaal sekali. Kemarin masih tertawa, hari ini belum tentu sama. Tapi, apa makna dari kebersamaan jika hati tak benar-benar sama. Tak benar-benar saling menyayangi. Tak benar-benar saling membutuhkan.

Saya sering mendengar curhatan teman saya tentang pacarnya yang gamau putus-putus. Dan dia juga gabisa mutusin, karena kasian. Sekali lagi saya bertanya, apa arti sebuah kebersamaan jika hanya berdasar pada rasa kasian?

Menurut saya, mengapa level terakhir mencintai menurut pandangan saya adalah mengikhlaskan dengan cara merelakan? Karena boleh jadi ketika melepaskan, dia-orang yang kita sayang-bisa mendapatkan orang yang lebih baik  daripada kita dan membuatnya bahagia. Bukankah rasa menyayangi paling tinggi adalah ketika melihat orang yang kita sayang bahagia? Jika bersama dengan kita tidak membuatnya bahagia dan kita tetap mempertahankan. Apakah itu namanya mencintai? Saya rasa tidak.

Oh Tuhan, dengan pemikiran saya seperti ini. Saya harap saya masih bisa menikah nanti.

You Might Also Like

0 comments

Pinterest

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe