"gue suka aneh loh sama temen gue yang bilang, seneng gue sama cewe ini, dia mau diajak susah. mau diajak metro mini, diajak panas-panasan"
begitu (kurang-lebih) kata sahabat gue, ditengah-tengah perbincangan tidak berjudul kita kemarin, didepan danau UI yang langitnya mulai berubah abu.
lalu gue mendengarkan lagi dengan seksama.
"bagi gue, kalo gue suka jalan-jalan naik motor kemana-mana, dan cewe gue ga suka naik motor kalo jalan-jalan. itu bukan berarti cewe gue ga suka di ajak susah. tapi kita berbeda kesenangan"
kemudian gue senyum. "kadang, pinter juga ni orang satu" kata gue dalam hati sambil tetap memperhatikan mimik mukanya yang agak serius.
"gue gapernah menjanjikan nanti calon istri gue buat mau susah sama gue. atau bilang, 'nanti kamu mau yah hidup susah sama aku'.
kalo nantinya gue nikah terus gaji gue kecil tapi gue dan keluarga gue tetep bahagia, apa itu susah namanya?"
"iya yah ba gue setuju" kemudian gue menimpali.
"kenapa konteks kata susah jadi mengerucut yah, susah itu dikaitinnya sama duit atau hidup yang susah, hidup yang gak wah. ya gak sih?" kata gue lagi.
terus dengan tidak bijaknya dia tidak menanggapi tanggapan gue.
gue ga pernah ngerti yah, otak temen gue ini seperti kantong doraemon.
apa aja ada. bahkan obrolan dan pemikiran yang ga biasa sering dia bahas. dan selalu menarik untuk dibahas dengan gue yang minim pemikiran yang ga biasa.
dan obrolan tentang susah ini di akhiri dengan kalimat,
"kenapa kalo cowo putus bilangnya, 'gue putus sama dia, soalnya dia gamau hidup susah', kenapa ga bilang aja, 'gue putus sama dia, karena berbeda kesenangan' kan itu lebih bijak"
begitu (kurang-lebih) kata sahabat gue, ditengah-tengah perbincangan tidak berjudul kita kemarin, didepan danau UI yang langitnya mulai berubah abu.
lalu gue mendengarkan lagi dengan seksama.
"bagi gue, kalo gue suka jalan-jalan naik motor kemana-mana, dan cewe gue ga suka naik motor kalo jalan-jalan. itu bukan berarti cewe gue ga suka di ajak susah. tapi kita berbeda kesenangan"
kemudian gue senyum. "kadang, pinter juga ni orang satu" kata gue dalam hati sambil tetap memperhatikan mimik mukanya yang agak serius.
"gue gapernah menjanjikan nanti calon istri gue buat mau susah sama gue. atau bilang, 'nanti kamu mau yah hidup susah sama aku'.
kalo nantinya gue nikah terus gaji gue kecil tapi gue dan keluarga gue tetep bahagia, apa itu susah namanya?"
"iya yah ba gue setuju" kemudian gue menimpali.
"kenapa konteks kata susah jadi mengerucut yah, susah itu dikaitinnya sama duit atau hidup yang susah, hidup yang gak wah. ya gak sih?" kata gue lagi.
terus dengan tidak bijaknya dia tidak menanggapi tanggapan gue.
gue ga pernah ngerti yah, otak temen gue ini seperti kantong doraemon.
apa aja ada. bahkan obrolan dan pemikiran yang ga biasa sering dia bahas. dan selalu menarik untuk dibahas dengan gue yang minim pemikiran yang ga biasa.
dan obrolan tentang susah ini di akhiri dengan kalimat,
"kenapa kalo cowo putus bilangnya, 'gue putus sama dia, soalnya dia gamau hidup susah', kenapa ga bilang aja, 'gue putus sama dia, karena berbeda kesenangan' kan itu lebih bijak"







