Hari ini hari senin.
6 bulan 17 hari yang lalu Papa selesai menunaikan tugasnya di Dunia dan di panggil Allah tepat ketika beliau menyebut namaNya pada hembusan ke 5.
3 bulan 24 hari setelahnya atau 2 bulan 23 hari yang lalu saya resmi resign dari pekerjaan saya tercinta karena satu dan lain hal.
Dua hal itu pergi. Tiba - tiba, tanpa perduli saya siap atau tidak.
Saya sempat marah pada hidup. Saya sempat menjadi manusia yang paling tidak bersyukur di dunia. Saya sempat merasa hidup itu tidak adil. Saya sempat bertanya di setiap malam yang datang, mengapa hal ini terjadi kepada saya? Mengapa saya 'seperti sudah jatuh tertimpa tangga'?
Lalu saya mulai marah.
Marah kepada Papa kenapa pergi meninggalkan cerita lain dan luka dalam. Marah mengapa beliau pergi tanpa ada kata berpisah dan mempersiapkan saya untuk sakit saat beliau pergi.
Marah kepada pekerjaan saya yang tiba - tiba pergi. Walau sudah direncanakan tapi tidak seperti apa yang diinginkan.
Marah kepada hidup karena sudah memberikan ketidakadilan dalam perjalanan saya. Lihat saja, semua teman saya diambil oleh waktu. Saya sendiri. Sungguh tidak adil hidup ini.
Sempat ingin marah kepada Allah, tapi rasanya jika Allah marah balik ke saya, saya tidak mampu menangani amarahNya. Bisa jadi abu saya. Entah di dunia atau di akhirat. Kemudian saya urungkan marah saya ke Allah.
Kemudian 3 bulan 3 hari setelah Papa meninggal tanpa kata pisah. Saya resmi dipersunting sahabat saya, Mirza Elba Febrian. Dengan malu malu waktu itu.
Entah bagaimana rasa dan semesta bekerja. Saya seperti sedang bermimpi. Rencana kita 12 bulan sebelumnya dijabah Allah.
Dan 1 bulan 11 hari setelah pekerjaan saya diambil Allah, tepatnya ketika saya sudah lelah mengeluh - lelah bersedih - saya lelah menangis - saya lelah tidak ada kegiatan, saya memutuskan untuk meneruskan bisnis saya semasa kuliah yang terhenti, Widyam Design.
Tiga hari kemarin,
Saya menangis sesegukan didepan Allah. Saya mengucap banyak terima kasih.
Ternyata ini jawabannya kenapa Papa harus pergi dan pekerjaan saya diambil.
Tidak lain dan tidak bukan untuk digantikan dengan yang lebih baik.
Mungkin kalau Papa tidak pergi, saya tidak sedang menyiapkan pernikahan saya dengan sahabat saya.
Mungkin kalau pekerjaan saya tidak diambil, saya tidak sedang menjalankan apa yang saya impikan dari dulu, berbisnis.
Dua hal yang tiba tiba pergi digantikan dengan dua hal yang saya sempat panjatkan disetiap doa saya.
Saya jadi paham, kenapa Allah suruh kita untuk sabar saat diberikan cobaan.
Karena selain Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambaNya, sesungguhnya jika kita ikhlas terhadap apa yang diambil, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Jadi, jangan patah semangat ya kamu kamu!
