Hai!
kalian yang belum tidur se-pagi ini.
Gue mau ucapkan selamat Idul Adha, bagi yang menjalankan. Bagi yang potong kambing dan juga sapi.
semoga membawa berkah untuk sesama.
*pelukin orang satu-satu*
Okeh, gue mau melepaskan pikiran gue dahulu. Bukan, bukan tentang perasaan kambing atau sapi yang mau dipotong pagi ini.
Jauh, jauh dari embel-embel Idul Adha atau sapi limosinnya Pak SBY yang hits diomngin dimana-mana.
Tapi ini tentang hati, perasaan, dan relasi.
Gue dulu mikir, kenapa ya..
kok dokter kadang nikahnya sama dokter, yang wartawan sama wartawan, pemusik sama pemusik...
nikah sesama jenis-pekerjaan.
Mungkin karena biar langsung nyambung kalo ada apa-apa ya, ngobrol enak, kalo ada masalah gausah ngejelasin lagi dari awal kalo 'ini' adalah A yang dicampur B dan akan C kalo kita ga masukin D, tiba tiba E muncul karena F lupa dimasukin dan diaduk selama G jam. dan seterusnya.
Betapa pasangan yang beda jenis pekerjaannya akan menjelaskan berulang. ngejelasin lagi pelan-pelan. saat 'koneksi' perbincangan mulai nyambung baru deh. cerita panjang. gabisa langsung cerita seperti kalo kita berpasangan sama sesama jenis pekerjaan.
Gue adalah manusia yang mempunyai pasangan beda jenis pekerjaan. Secara ga ada yang nyambung (untuk saat ini) kalo sama orang MICE, atau orang fashion.
Dan gue merasakan hal itu. hal yang tadi gue jabarin, me-reka ulang setiap kejadian, pelan-pelan.
Padahal gue adalah orang yang maunya set-set-set-jebret gitu. maunya kalo cerita, yang dengernya harus langsung bisa ngerti. atau kalo bisa, gausah diceritain dia udah tau masalahnya apa. dan harus bagaimana.
Belum lagi, udah dijelasin panjang-panjang saat hati gundah gulana, eh.... jawaban yang diharapkan tidak keluar. Jawaban yang itu-itu aja yang keluar.
Tidak ada yang salah dari semua itu. Apalagi jika mengingat gue bukan berpasangan dengan Doraemon yang punya alat "Kue Suara Hati" atau "Kuping Isi Hati Dia" yang kalo dimakan atau dipake bisa langsung kedengeran gue lagi kenapa dan dia harus apa.
Dan disinilah gue belajar.
betapa harus bersabarnya gue. untuk tetap bercerita. bahkan saat malas untuk bercerita.
membiasakan diri untuk tetap cerita. karena cerita itukan salah satu komunikasi yang penting, menurut gue.
Dan disinilah gue belajar.
betapa gue harus memberikan porsi lebih pada mendengarkan dan mengerti. agar komunikasi yang terjalin sampai. dan gue bisa memberikan apa yang diharapkan. gue bisa mendengarkan keluhannya, ceritanya, agar bisa mengerti dunianya.
Dan disinilah pula gue belajar.
betapa gue sedang menantang hidup untuk terus belajar dari perbedaan. betapa mempunyai pasangan beda jenis pekerjaan banyak memberikan gue ilmu baru. Tidak hanya seputar dunia menyusun event, anggaran insetive, program A dan B, tapi juga tentang teknik memetik gitar, posisi bermain gitar, bahkan sampe sejarah-sejarahnya. Jaman Bach, Barok, sampe sejarahnya Mozart.
Sesama jenis pekerjaan ataupun beda jenis pekerjaan akan sama aja. Yang membedakan adalah perspektif kalian. Sama atau tidak :)
kalian yang belum tidur se-pagi ini.
Gue mau ucapkan selamat Idul Adha, bagi yang menjalankan. Bagi yang potong kambing dan juga sapi.
semoga membawa berkah untuk sesama.
*pelukin orang satu-satu*
Okeh, gue mau melepaskan pikiran gue dahulu. Bukan, bukan tentang perasaan kambing atau sapi yang mau dipotong pagi ini.
Jauh, jauh dari embel-embel Idul Adha atau sapi limosinnya Pak SBY yang hits diomngin dimana-mana.
Tapi ini tentang hati, perasaan, dan relasi.
Gue dulu mikir, kenapa ya..
kok dokter kadang nikahnya sama dokter, yang wartawan sama wartawan, pemusik sama pemusik...
nikah sesama jenis-pekerjaan.
Mungkin karena biar langsung nyambung kalo ada apa-apa ya, ngobrol enak, kalo ada masalah gausah ngejelasin lagi dari awal kalo 'ini' adalah A yang dicampur B dan akan C kalo kita ga masukin D, tiba tiba E muncul karena F lupa dimasukin dan diaduk selama G jam. dan seterusnya.
Betapa pasangan yang beda jenis pekerjaannya akan menjelaskan berulang. ngejelasin lagi pelan-pelan. saat 'koneksi' perbincangan mulai nyambung baru deh. cerita panjang. gabisa langsung cerita seperti kalo kita berpasangan sama sesama jenis pekerjaan.
Gue adalah manusia yang mempunyai pasangan beda jenis pekerjaan. Secara ga ada yang nyambung (untuk saat ini) kalo sama orang MICE, atau orang fashion.
Dan gue merasakan hal itu. hal yang tadi gue jabarin, me-reka ulang setiap kejadian, pelan-pelan.
Padahal gue adalah orang yang maunya set-set-set-jebret gitu. maunya kalo cerita, yang dengernya harus langsung bisa ngerti. atau kalo bisa, gausah diceritain dia udah tau masalahnya apa. dan harus bagaimana.
Belum lagi, udah dijelasin panjang-panjang saat hati gundah gulana, eh.... jawaban yang diharapkan tidak keluar. Jawaban yang itu-itu aja yang keluar.
Tidak ada yang salah dari semua itu. Apalagi jika mengingat gue bukan berpasangan dengan Doraemon yang punya alat "Kue Suara Hati" atau "Kuping Isi Hati Dia" yang kalo dimakan atau dipake bisa langsung kedengeran gue lagi kenapa dan dia harus apa.
Dan disinilah gue belajar.
betapa harus bersabarnya gue. untuk tetap bercerita. bahkan saat malas untuk bercerita.
membiasakan diri untuk tetap cerita. karena cerita itukan salah satu komunikasi yang penting, menurut gue.
Dan disinilah gue belajar.
betapa gue harus memberikan porsi lebih pada mendengarkan dan mengerti. agar komunikasi yang terjalin sampai. dan gue bisa memberikan apa yang diharapkan. gue bisa mendengarkan keluhannya, ceritanya, agar bisa mengerti dunianya.
Dan disinilah pula gue belajar.
betapa gue sedang menantang hidup untuk terus belajar dari perbedaan. betapa mempunyai pasangan beda jenis pekerjaan banyak memberikan gue ilmu baru. Tidak hanya seputar dunia menyusun event, anggaran insetive, program A dan B, tapi juga tentang teknik memetik gitar, posisi bermain gitar, bahkan sampe sejarah-sejarahnya. Jaman Bach, Barok, sampe sejarahnya Mozart.
Sesama jenis pekerjaan ataupun beda jenis pekerjaan akan sama aja. Yang membedakan adalah perspektif kalian. Sama atau tidak :)