Apakah Aku Perlu Menikah Sekarang?
11.36.00
Hari ini lagi buka feed Instagram dan lumayan tertohok
dengan postingan Rabbithole karena sangat setuju.
(Sumber: Instagram Rabbithole)
Aku pernah ditanya, “Gimana sih tau dia itu, the one?” atau
“kapan sih tau kita itu udah siap menikah?”
Sebelum aku jawab pertanyaan di atas, aku mau mengenang dulu,
kenapa ya dulu aku menikah?
Jujur aja aku terinspirasi dari kakakku, menikah muda.
Terlihat mudah. Terlihat menyenangkan. Belum lagi melihat lingkungan, wah
kayaknya seneng deh kalo punya suami, bisa sharing ini dan itu. Aku juga mau
punya anak diwaktu muda biar ga terlalu kejauhan jaraknya. Jadi, kalo dia
remaja ya aku masih nyambung. Ternyata? Menyenangkan dan banyak juga
rintangannya.
Aku jadi lupa membasuh luka ku. Dulu, aku ga kenal sama luka
pengasuhan dan luka masa lalu. Nyatanya, itu berdampak sekali dengan cara kita
menyelesaikan masalah dengan pasangan. Bagaimana kita nantinya mengasuh anak. Bagaimana
kita nantinya mengelola emosi kita. Bagaimana kita berkompromi dengan mertua
dan ipar.
Hasilnya apa? Aku “belajar” ngos-ngosan. Benerin diri aku,
disisi lain hidup menuntut aku buat berkembang. Sampai pernah aku merasa aku
salah memilih menikah. Aku salah milih suami. Bahkan aku bilang gitu ke suami,
dan dengan sabarnya dia bilang, “Itu bukan kamu, itu bisikan setan. Kamu harus
yakini itu” Yaaa bener juga sih. Kan tugas setan buat bikin anak adam cerai. Dari
situ udah deh, mencoba selalu sadar dan belajar terus.
Alhamdulilah banget, sekarang banyak media yang bisa bikin
aku belajar tentang memaafkan, komunikasi, cara ngasuh anak, dan serba serbi
pernikahan. Bahkan sekarang ada sekolah buat menikah loh. Aku demen banget liatnya.
Aku tau menikah itu untuk ibadah, tapi setiap ibadahpun perlu ilmunya. Apalagi
ini, ibadah paling berat karena dilakukan seumur hidup.
Jadi,
Kapan waktu yang
tepat untuk menikah?
Sebenarnya jawabanya ada di diri kita masing – masing.
Apakah kita sudah selesai dengan masa lalu? Apakah kita sudah selesai dengan
keinginan kita? Apakah kita sudah ikhlas menerima luka yang dulu pernah kita
rasakan? Apakah kita sudah mau berkomitmen? Apakah kita mau berubah
meninggalkan sifat buruk kita? Udah punya ilmu menikah dan mengurus anak?
Kayaknya ribed banget mo nikah segala kudu refleksi diri. Aku setuju sama rabbit hole. Ketika kita bahagia kita akan bisa menyebarkan
tangki tangki cinta kita.
Maka itu, aku kurang setuju sih sama istilah, menikah untuk
bahagia. Saat ini menurutku lebih tepat, bahagia baru menikah. Jangan menikah,
biar kamu merasa lebih baik. Menikah biar lega ga ada lagi yang Tanya kapan
nikah. Menikah biar lega, lega dengan diri sendiri. Akhirnya ga sendirian kalo
kondangan. Menikah karena udah kejar – kejaran sama umur. Dan alasan sosial
lainnya. Menikahlah ketika kamu udah siap dan pasangan mu siap.
Nah, ngomongin soal pasangan.
Bagaimana sih tau dia
itu “the one”?
Setiap orang itu punya indikator sendiri untuk menyatakan “dia
adalah yang aku cari”. Kalo aku pribadi, aku yakin sama pasanganku itu karena
dia gak pernah ninggalin sholat, sayang ibu, dan bertanggung jawab. Menurutku
penting, sholat itu pondasi agama. Sayang ibu berarti dia bisa menghormati aku
sebagai istrinya. Tanggung jawab itu pondasi dia sebagai suami dan ayah. Heheh.
Silahkan kamu mengidentifikasi bagaimana the one kamu. Jangan lupa ya, ga ada
manusia yang sempurna. Realistis aja.
Selain itu, cek deh komunikasi kalian. Nyambung? Bisa ga
diajak ngomong serius? Bisa ga diajak ngomong soal hal – hal pernikahan? Ngomongin
yang berat kaya corona atau pemilu bisa ga?
Lalu coba sekali ngomongin soal pernikahan. Visinya sama?
Dia mau kamu nanti kerja atau mau jadi IRT? Pembagian uang gimana nanti? Tugas
di rumah nanti gimana? Tugas anak siapa yang jaga? Rencana mau tinggal sendiri
atau gimana? Kenapa mau masih mau tinggal sama orang tua? Kalo nanti amit –
amit aku ada ribut sama keluargamu,kamu gimana? Mau punya anak berapa? Kenapa?
Rencananya anak boleh ga begini dan begitu? Menurutmu kenapa kita harus punya
anak?
Menurutku, komunikasi adalah kunci dari pernikahan. Merancang
masa depan anak. Merancang finansial keluarga. Lah kalo ngobrol sehari masih
lala lolo ya gimana mau ngurusin rumah tangga?
Dengerin diri kamu sendiri dan juga banyak berdoa aja. Tuhan
gak pernah bohongin umatNya. Dia akan nunjukin jalan terbaik untuk kamu. Begitu
juga dengan hati kamu. Menikah itu ga ada jalan kembalinya. Once you jump into it, there is no way back.
Jadi, mintalah calon terbaik dari yang Maha Baik.
Terakhir, aku nulis ini bukan mau gegayaan karena udah nikah
dan paling banyak tau. Oh no! Tapi aku mau berbagi bahwa hidup itu ya
melelahkan dan banyak rintangan, termasuk pernikahan. Aku gak bilang kamu akan
mengalami persis sama kaya yang aku alamin. Tapi aku berani jamin kamu bisa
menjalani lebih baik dari aku, kalo kamu punya ilmunya. Kalo kamu sudah selesai
dengan diri kamu. Kalo kamu sudah ikhlas untuk berkomitmen.
Semoga tulisan ini tidak membuatmu mundur untuk menikah tapi
untuk menyiapkan diri dengan lebih baik. Selalu yakin pertolongan Tuhan itu nyata, apalagi untuk pernikahan. Namun, bukan berarti kita ga ikhtiar untuk memberikan yang terbaik dalam ibadah inikan? Cheers!



0 comments