Beberapa hari lagi gue mau ada makrab ala ala gitu sama angkatan di kampus gue.
Kali ini tidak seperti biasa, mahluk-mahluk minoritas (re:cowo) yang mengambil alih kegiatan angkatan. Yah gue sih berharap makrabnya bukan jadi kaya wajib militer. Hahaha
Kemudian kemarin gue baru menyelesaikan tugas yang cukup berat menurut gue. Gue manamakan tugasnya,tugas 'Berlagak seperti Tuhan'
Tugasnya itu menyebutkan 1 sifat buruk, 1 sifat baik. Dan kita harus kasih dia istilah ter- (contohnya terimut, terucul, terunyu, tersayang, dll)
Awalnya gue rasa mudah.
Gue tulis sifat baik dan buruk teman seangkatan gue.
Kemudian gue mulai stak. Ada org yang gue gatau sifat buruknya. Ada orang yang bahkan gue gatau sifat baik dia apa. Jahat kan?
Gue jadi merasa jahat ketika gue menulis si a 'egois' ya Tuhan betapa gue sering egois di kehidupan. Lalu seenaknya gue menghakimi orang dengan bilang egois.
Mungkin ini kecil. Ya mungkin gue memang yang membesarkan. Tapi tugas Berlagak menjadi Tuhan ini memang tidak mudah. Dan tidak kecil menurut gue. Betapa setiap gue menulis sifat buruk seseorang, betapa gue bertambah sadar bahwa selama ini disadari atau tidak gue tanpa disuruhpun juga suka mengambil tugas Tuhan, menghakimi seseorang karna sifatnya, keburukannya, pun kesalahannya.
Padahal Tuhan yang punya hak penuh menjadi hakim teradil pun tak pernah menghakimi hambaNya. Sekalipun. Tidak membedakan hambaNya karna keburukannya.
Lalu siapa gue yang selama ini sering kali berlagak seperti Tuhan?
Kali ini tidak seperti biasa, mahluk-mahluk minoritas (re:cowo) yang mengambil alih kegiatan angkatan. Yah gue sih berharap makrabnya bukan jadi kaya wajib militer. Hahaha
Kemudian kemarin gue baru menyelesaikan tugas yang cukup berat menurut gue. Gue manamakan tugasnya,tugas 'Berlagak seperti Tuhan'
Tugasnya itu menyebutkan 1 sifat buruk, 1 sifat baik. Dan kita harus kasih dia istilah ter- (contohnya terimut, terucul, terunyu, tersayang, dll)
Awalnya gue rasa mudah.
Gue tulis sifat baik dan buruk teman seangkatan gue.
Kemudian gue mulai stak. Ada org yang gue gatau sifat buruknya. Ada orang yang bahkan gue gatau sifat baik dia apa. Jahat kan?
Gue jadi merasa jahat ketika gue menulis si a 'egois' ya Tuhan betapa gue sering egois di kehidupan. Lalu seenaknya gue menghakimi orang dengan bilang egois.
Mungkin ini kecil. Ya mungkin gue memang yang membesarkan. Tapi tugas Berlagak menjadi Tuhan ini memang tidak mudah. Dan tidak kecil menurut gue. Betapa setiap gue menulis sifat buruk seseorang, betapa gue bertambah sadar bahwa selama ini disadari atau tidak gue tanpa disuruhpun juga suka mengambil tugas Tuhan, menghakimi seseorang karna sifatnya, keburukannya, pun kesalahannya.
Padahal Tuhan yang punya hak penuh menjadi hakim teradil pun tak pernah menghakimi hambaNya. Sekalipun. Tidak membedakan hambaNya karna keburukannya.
Lalu siapa gue yang selama ini sering kali berlagak seperti Tuhan?