#Sharing: Bukan alasan untuk, 'Patah'.

09.25.00

Keluarga itu sekolah primer. Sekolah paling utama. Orang tua sebagai guru utamanya, Orang tua sebagai panutannya. Lalu, bagaimana jika di rumah panutannya menghilang? karena sibuk dengan urusan masing-masing? atau malah sibuk bertengkar? atau mungkin... sibuk menangis karena disakiti dan menyakiti?

gue ga pernah tau, arti sebenernya dari 'broken home'. gue cuman bisa memahami dari kacamata gue.
disini, gue ga mau membahas lebih dalam broken home itu apa, karena menurut gue kita bisa paham makna dari broken home dari kacamata kita masing-masing.

gue mau coba bahas hasil dari broken home. dari kacamata gue.
biasanya temen-temen yang (merasa) broken home jadi nakal, bandel, malah seneng dibilang rusak karena broken home :(
sedih liatnya.
mereka-mereka, merasa bangga, untuk merusak diri.
padahal, kalo keluarga kita 'patah' bukan berarti kita harus jadi 'patah' jugakan? 

mereka-mereka yang mempunyai masalah keluarga, merasa dirinya paling berhak patah dan rusak.
kalo kita cermati lagi,
apakah orang tua yang bercerai lebih baik daripada keluarga yang punya dua ibu dan satu ayah? 
apakah keluarga yang punya dua ibu dan satu ayah lebih baik daripada orang tua yang suka bertengkar lempar-lemparan barang? 
apakah orang tua yang suka bertengkar juga lebih baik daripada  orang tua yang sama-sama sibuk bekerja hingga melalaikan kewajibannya sebagai orang tua untuk memerhaikan anak-anaknya?
Tidak ada yang lebih baik, menurut gue. 
karena Tuhan udah kasih porsi kita sesuai kemampuan kita.

saat mendapati fakta bahwa keadaan keluarga kita ga seindah seperti keluarga kebanyakan, diri kita yang 'kaget' akan menginput fakta-fakta tersebut jadi hal yang negatif. sedih, kecewa, terpukul, jatuh, sakit, merasa sendiri, dan berbagai jenis perasaan lain yang membuat kita merasa bahwa kita adalah mahluk paling malang sedunia.

Lalu bagaimana?
sampai kapan mau ada dititik terendah dalam hidup?
waktu itu gue pernah ikut gathering kampus. terus di acara itu ada waktu dimana kita harus duduk diem dan disuruh nangis. dengan alasan apa aja.
terus ada yang cerita masalah keuangan, masalah pacar, dan ada juga yang cerita tentang keluarganya. yang bapak-ibunya pisah.
terus kaka yang membimbing renungan hari itu bilang, 
sampe kapan kita mau ada dititik terendah dalam hidup kita? sampai kapan kita ga mau bangun dan bergerak dari kesedihan yang selama ini membuat kita jatuh? mau sampai kapan? :)

gue punya temen, orang tuanya mau cerai waktu itu. 
tapi itu ga mempengaruhi keinginan dia untuk nyelesaikan tugas akhir kuliahnya.
hebat banget. padahal gue tau, pasti hati dia berantakan. tapi gimana caranya dia tetep bisa fokus dan mengatasi kegundahan dan sakit yang dia punya. dia bisa mengolah rasa sakit yang dia punya, jadi sebuah acuan untuk jadi lebih baik. dan ga jadiin alesan untuk berhenti berkontribusi. buktinya dia masih tetep aktif untuk ikut kegiatan sosial dimana-mana.

ada juga,
yang baru tau kalo ayahnya punya dua orang istri waktu mau UN SMA.
dia terpukul banget, bahkan dia sempet gamau sekolah. keluar malem, pulang jam 2 pagi.
untungnya ada keluarganya yang selalu support dia. dan dukung dia. hasilnya? Ujiannya lulus. dan dia bisa mengolah itu semua. walopun harus terseok-seok. sekarang? dia juga aktif di kegiatan sosial.

Gue ga bilang mudah untuk ngelewatin hal-hal macem begini. apalagi kalo udah bawa-bawa keluarga. karena gue tau, gue menempatkan keluarga sebagai pondasi hidup gue, setelah agama. jadi bagaimana bisa tetep kuat saat keluarga terkena masalah.begitu juga kalian.
tapi itulah peran kita. untuk selalu memberikan support, saling menguatkan, dan saling meyakinkan bahwa ini memang akan baik-baik saja. 'Ini' semua cuman mimpi buruk yang kita harus terima, dan akan menjadikan kualitas diri kita lebih kuat.

Satu hal yang menjadi bahan pertimbangan, saat kita mau bandel.
coba bayangin muka orang tua (ibu/ayah) yang udah berkorban selama ini buat kita. atau berjuang demi kebahagiaan kita. tetep mencoba tersenyum walaupun hatinya sakit. tapi tetep memikul beban sendiri, dan 'berlaku' seperti semua baik-baik saja, padahal tidak. apapun hasilnya, yakinlah bahwa mereka selalu mencoba memberikan yang terbaik. apapun. bahkan kisah hidup mereka adalah buah yang bisa kita ambil untuk pelajaran hidup di masa yang akan datangkan?

Jadi, sungguh.
Ga ada lagi alesan buat jadi 'patah' saat kamu lahir di keluarga yang ga baik-baik saja :)

You Might Also Like

0 comments

Pinterest

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe