#Merantau: Seberapa pantas kita untuk dibayar? :)
07.52.00
Sudah dua bulan saya tinggal di
Bali. Dan semakin banyak hal yang saya pelajari untuk bekal hidup saya nanti.
Salah satunya tentang, "Apakah saya sudah pantas untuk dibayar?"
Pertanyaan ini mulai
'menghinggapi' saya saat saya ikut dalam salah satu event oleh sebuah Event
Organizer di Bali. Jujur saja, saya selalu senang ikut event karna dua hal,
untuk kepentingan pengalaman saya dan menambah uang saku saya. Hehe.
Acaranya 3 hari, acara dinner sebuah perusahaan Perancis dengan
perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Bukan event
yang sulit tapi bukan berarti event yang bisa digampangin juga. Singkat cerita, saya tidak dibayar. Saya memang
sudah ada feeling, karna dengar punya dengar dari teman saya, di Bali banyak
yang tertarik menjadi volunteer di sebuah acara. Jadi, saya fikir, yasudahlah
yah kalo dibayar ya Alhamdulilah, kalo engga yamasasih ga dibayar. Hehe
Terlebih sebelum evaluasi acara bersama event organizer, ownernya bilang "Kaka saya pernah bilang, kalo lagi ada
event ikut aja gausah pikirin masalah bayaran dulu, tapi perbanyak koneksi dulu
dimana-mana". Kode berat kayaknya, tapi bener ga? Ya bener!
Saya sedih ga karena ga dibayar?
Lumayan. Tapi yang membuat saya lebih sedih ketika evaluasi, "Tim ini ga sesigap tim yang
sebelumnya, tim yang sebelumnya tau apa yang mereka harus lakuin tanpa
disuruh" kata salah satu atasan saya saat evaluasi. Tim ini maksudnya
saya, teman-teman saya, dua orang bule, dan satu staff EOnya. Benar-benar
tertampar. Saya seorang mahasiswi yang belajar cara menangani event selama 3
tahun lebih dan masih dianggap ga inisiatif. "How bad i am?!!" Kata
saya kesel sendiri.
Tidak sampai disitu, pertanyaan
saya terhadap diri saya akan seberapa pantas saya dibayar semakin menjadi-jadi
ketika saya datang ke Ubud Writers and Readers Festival 2014. Di UWRF 2014
banyak banget volunteer. Volunteernya kebanyakan bule.
"Lo tau ga nyoh? Ada volunteer di ubud writers yang pernah bikin
event yang kaya lo mau bikin pas Mata kuliah Coorporate Event, Virtual event
organizer. AAAHH Keren kan!" Kata temen saya, excited. Wah saya juga ikut
kesenengan! Keren juga, ibaratnya dia dinegaranya udah jadi orang sukses,
mungkin biasa open recruitment buat volunteer-volunteer juga, tapi mau 'turun
tangga' lagi buat jadi volunteer. Alesannya apa? Cari pengalaman. Sementara
saya? Masih suka itung-itungan soal hak yang saya dapet. padahal mungkin aja
pengalaman dia-si volunteer-lebih banyak daripada saya.
Kemudian saya jadi sadar
sekarang, Sering banget saya kalo ditawarin event setelah tanya "Itu event apa?", pertanyaan
kedua pasti "feenya berapa? hehe".
Selalu mendahulukan hak dan membelakangi kewajiban.
Pantas aja, dulu pernah ada senior
saya cerita, dia pernah marah waktu nawarin event ke juniornya dan pertanyaan
pertama yang dilontarin, "Feenya berapa bang?" :( Mungkin ini
maksudnya kenapa dia marah. mungkin maksudnya, "Kaya kerja lo udah bener aje, langsung nanya feenya berapa!" Mungkin.
Disisi lain, ada juga temen saya
yang bilang, "Tapi kak, ya sekarang mah ga muna lah ya. Kitakan butuh
duit, uang transportasi deh at least sama makan". Iya ngerti kok. Saya
juga ga pernah nolak kalo feenya lumayan.
Tapi yang perlu digaris bawahi
adalah ketika kita sudah dengan gagahnya nanya fee yang akan kita dapat berapa,
atau hak yang akan kita terima apa saja, itu berarti kita sudah siap untuk
menunjukkan bahwa kita pantes kok buat dibayar. Kerja kita pantas kok untuk
diberikan upah bukan untuk cuma-cuma. Jangan sampai, udah nanya fee berapa tapi
dateng telat, pas event mainan hape mulu, pas event ketiduran, pas event
attitudenya ga bagus, pas event ga inisiatif :( Kan malu, macem buruh dijalan
yang teriak-teriak minta hak tapi lupa tanya sama diri sendiri udah kasih
kewajiban sama besar belum dengan suara yang dikeluarkan? :(
0 comments