Bukan sekedar "maaf yah bero" :)

08.22.00

Beberapa hari terakhir dikasih pelajaran yang baik dari Tuhan. Tentang memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri.

Sempat ada beberapa kejadian dihidup saya yang membuat saya mengutuki diri saya, hingga tanpa sadar 'memenjarakan' diri saya sama amarah yang tidak saya 'urus-urus' karna memegang teguh quotes 'Time will healing everything, just give it a time'. Tapi lama-lama kok ada perasaan yang ga enak dihati?

Begitu juga dengan hubungan dengan orang lain. Saya mudah bilang "iya gue minta maaf yah udah lalala". Apalagi kalo sudah menyesal. Saya juga mudah memaafkan orang lain, apalagi ketika saya sudah merasa hati saya tenang.

Tapi, apa cukup sampai disitu? Untuk beberapa kasus kecil iya. Tapi bagaimana jika urusan saya dengan orang lain sampai menimbulkan sakit hati antara saya dan yang bersangkutan?
Tentu tidak mudah. Apalagi sesama manusia yang butuh koneksi banyak, bisa saja lisan berucap sudah memaafkan tapi hati masih terluka.
Bagaimana? Ibarat lutut yang luka karna jatuh dari sepeda, jika tidak segera diobati lukanya akan parah seiring dengan debu-debu yang masuk.

Lalu obatnya apa untuk hati? Ya memaafkan.
Menurut saya, memaafkan itu bukan sekedar kata 'Gue minta maaf yah udah nyakitin lo sama kata-kata gue'. Atau penyesalan sesaat saat kita menyakiti orang lain tapi lebih dari itu.
Memaafkan itu adalah interaksi dari dalam diri kita yang di bantu oleh Tuhan untuk benar-benar berdamai sama rasa sakit yang ada.
Memaafkan berarti kita punya rasa ikhlas yang besar untuk berdamai. Berdamai sama orang-orang yang telah menyakiti. Berdamai sama masa lalu. Percaya kalo manusia memang tempatnya salah.

Jadi gapapa kalo kita ngelakuin kesalahan selama kita tidak mengulanginya besok dan besok lagi.

Memaafkan itu komunikasi batin yang sakral menurut saya.
Maka pantaslah ketika Idul Fitri tiba kita (muslim) diberikan 'reward' sama Allah kalo kita bisa maafin orang lain.
Rewardnya apa? Dimaafin semua kesalahan-kesalahan satu tahun kemarin.
Karna sekali lagi, memaafkan tidak mudah (apalagi kalo udah menyangkut sakit hati. Seperti: mengecewakan orang, berbuat tidak ramah sama orang penting, menyakiti hati orang tua karna lisan).

Memaafkan ini tentu berlaku untuk memaafkan diri sendiri. Saya pribadi merasa, sesusah-sesusahnya memaafkan orang lain lebih susah memaafkan diri sendiri.
Maka itu, saya lebih banyak 'berkomunikasi' dengan diri saya untuk memaafkan diri saya. Dan 'meyakinkan' diri saya bahwa gapapa kalo ngelakuin kesalahan. Jangan sampai diri saya 'terjebak' dengan persoalan masa lalu yang akhirnya malah 'mengekang' diri sendiri untuk berkembang.

Semoga teman-teman yang sedang merasakan hal yang (pernah) saya rasakan bisa terbantu.
Semangat memaafkan ! :)

You Might Also Like

0 comments

Pinterest

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe