H min satu Valentine: Antara Cinta dan Mimpi

06.25.00

Gile. Judulnya dangdut abis gasih? haha

By the way, gue bahkan agak sedikit lupa kalo besok itu hari valentine. Bukan, bukan karena *ehem* ga punya pasangan. tapi karna hari kasih sayang a la a la abege itu ga penting buat gue.
gue lebih mementingan perut lapar gue daripada mikirin besok bakal dikasih coklat sama siapa. atau gue lebih kepikiran sama jari-jari gue yang mulai kapalan gara-gara kebanyakan main gitar ketimbang mikirin besok gue mau menghabiskan waktu bersama siapa ya.

Valentinekan identik sama cinta gitu yah. gue jadi inget obrolan gue di BBM sama sahabat gue.
Sahabat gue ini, sahabat dari SMA gitu loh. dari jaman dia kelas satu botak sampe sekarang kuliah dia gondrong. Seiring-banyaknya-perubahan yang kita lewatin bareng-bareng, satu hal yang ga berubah dari dia. Perjuangannya menggapai mimpi...
"Lo lebih sering sakit karena pacar atau karena mimpi?" salah satu pertanyaan dia yang 'ngena' di tengah-tengah pembicaraan haha-hihi kita malem itu.
"Hemm... pacar sih ja. heuheuheu" lalu gue menjelaskan jawaban gue, dengan beberapa argumen pembenaran.
"Kayaknya anak jaman sekarang lebih banyak terluka karena pacar ya" katanya lagi. sekali lagi dia berhasil,  menohok gue. nyesek bacanya entah mengapa.
"Kadang orang ngomong di twitter "kalo sukses harus jatuh bangun" itu belum tentu tau ngerasain bener-bener muak jatuh ampe rasanya muak" dia melanjutkan. lalu gue menjelaskan, memang kita butuh orang seperti mereka. sebagai pengingat Tuhan yang tidak pernah terlelap. dan sadar kalo kita gabakal jatuh terus, dan ada saatnya kita bangun. karena gue tau benar, dia pernah sakit karena mimpi. dia bahkan pernah muak karna mimpi.
"iya siiiiii" dia membenarkan.
"Tapi kenapa kalo soal pasangan kita susah untuk berfikir kaya gitu. Makanya orang lebih sering jatoh soal begituan" lanjutnya lagi. laludia menyebutkan nama sahabat gue yang lain, yang pernah menangisi mimpinya. Dia juga menyebutkan bahwa orang yang udah pernah menangisi mimpinya, berarti perasaan dia terhadap mimpinya udah dalam.
lalu kami kembali berbincang soal cita-cita tanpa batas.

Ditengah-tengah obrolan kita malam itu. Hati gue masih 'nyut-nyut'an a la smash akibat pertanyaan dan pernyataan dia yang agaknya menusuk kaum muda jaman sekarang.
gue setuju sih sama temen gue. kayaknya kita-kaum muda-lebih banyak mikirin dan sakit gara gara cinta gitu. galauin cinta. padahal pasangan yang kita galauin belum tentu worth untuk di galauin di masa depan. bahkan pernah, waktu putus gue ga galau. temen-temen gue pada ngecengin, kok ga galau?
lah? orang ga galau malah disuruh galau. bukan gue ga sedih sih. tapikan, ini cuman putus cinta. bukan putus kuliah.
Jarang juga, gue nemuin yang menangisi mimpinya. banyakan nangisin hubungannya kalo lagi berantem. ya ga sih?
padahal kalo dipikir, hidup terlalu singkat untuk dipake buat cinta-cintaan aja.
jadi inget lagunya maliq n d'essentials, "Buka mata.. hati telinga.. sesungguhnya... masih ada yang lebih penting, dari sekedar kata cinta.. huwoowoo"

Sahabat gue ini emang super sekali, menularkan semangat untuk menggapai mimpinya ke gue. Menularkan ion-ion positif tentang mimpi. walupun dia pernah tersakiti dan 'menangisi' mimpinya. bahkan muak sama kegagalan, tapi dia ga pernah lelah untuk usaha. karena ia tau, mimpilah yang membuat ia ingin hidup lebih lama dan mimpinya lah yang membuat dia bersemangat lebih dari biasanya.

You Might Also Like

0 comments

Pinterest

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe