Larangan berjilbab di Bali
05.27.00
Entah kenapa cukup gerah sama pemberitaan media yang agaknya berlebihan perihal larangan berjilbab di Bali.
Nah, sekarang saya lagi magang sebagai mahasiswi semester 7 di Bali. Mau sedikit sharing, tentang apa yang saya rasakan selama tinggal di Bali :)
Kemarin (15/8) baru aja disarankan buat ga pake kerudung dikantor sama salah seorang rekan atasan saya.
Alasannya biar bisa lebih akrab, dan menurut beliau aga segan ngomong sama orang yang pake kerudung. Jadi ga terlalu bebas.
Agak kaget sih, tapi langsung saya tolak baik-baik. Mencoba menjelaskan bahwa kerudung ya kewajiban bukan sesuatu hal yang bisa dilepas-pakai. Kemudian diapun mengerti (kayaknya sih haha). Mungkin, Beliau menyarankan karna tidak paham hakikat berkerudung itu wajib hukumnya untuk seorang muslimah. Mungkin masih melihat banyak muslimah yang tidak berkerudung di Bali. Sama saja seperti kita sebagai muslim yang ga paham sama makna dari sesajian yang mereka taruh didepan rumah, toko, dan jalan.
Lebih dari itu saya ga pernah disuruh buka kerudung. Malah dikantor dikasih tau kalo mau sholat tempatnya dimana. Mereka welcome dan baik-baik sekali.
Di Bali sendiri, selama 2 minggu disini semuanya baik-baik aja. ya walopun disini orang pake kerudung diliatinnya kaya 'gimana' gitu. Ya namanya juga minoritas, mungkin dilihat aneh. Mungkin. Dan lebih sering digodain di sini daripada di Jakarta. Tapi di godainnya juga masih dalam tahap, "asslamualaikum" gapernah yang aneh-aneh.
Saya memang pernah baca berita tentang larangan berkerudung di salah satu SMA di Denpasar. Tapi sedang dalam proses.
Menurut saya, apa yang diberitakan di media terlaludibesar-besarkan.
Mungkin ada rencana dari pemerintah Bali untuk melarang berkerudung.
Kalo ada larangan? Ya ga usah kerja di Bali. Ya gausah ke Bali. Wong masih banyak kok tempat kerja yang menunjang tanpa harus mengganggu apa yang sudah diwajibkan.
Nah, sekarang kembali lagi kepada kita sebagai muslim. Bagaimana kita menjelaskan, bagaimana kita berperilaku, bagaimana kita harus tetap menghargai pendapat mereka. Agar kita bisa diterima. Bukan malah menjelek-jelekan, asal bicara, dan melakukan hal-hal yang malah mengurangi nilai kita sebagai muslim. Harusnya perilaku kita menjadi bukti, bahwa kita-berkerudung-bukan ancaman kok untuk mereka jadi ga ada alasan buat melarang :)
Mulai sekarang yang gatau atau taunya cuma setengah-setengah (dan muslim) harus pintar. Jangan asal mengeneralisasi sesuatu. Kalo gatau diem. Kalo tau setengah-setengah jangan banyak omong. Telusuri dulu akarnya, lihat dulu faktanya.
Jangan sampe hal ini memecah karna ke-sok-tauan kita :)
Semoga bisa menjadi referensi yah!
Alasannya biar bisa lebih akrab, dan menurut beliau aga segan ngomong sama orang yang pake kerudung. Jadi ga terlalu bebas.
Agak kaget sih, tapi langsung saya tolak baik-baik. Mencoba menjelaskan bahwa kerudung ya kewajiban bukan sesuatu hal yang bisa dilepas-pakai. Kemudian diapun mengerti (kayaknya sih haha). Mungkin, Beliau menyarankan karna tidak paham hakikat berkerudung itu wajib hukumnya untuk seorang muslimah. Mungkin masih melihat banyak muslimah yang tidak berkerudung di Bali. Sama saja seperti kita sebagai muslim yang ga paham sama makna dari sesajian yang mereka taruh didepan rumah, toko, dan jalan.
Lebih dari itu saya ga pernah disuruh buka kerudung. Malah dikantor dikasih tau kalo mau sholat tempatnya dimana. Mereka welcome dan baik-baik sekali.
Di Bali sendiri, selama 2 minggu disini semuanya baik-baik aja. ya walopun disini orang pake kerudung diliatinnya kaya 'gimana' gitu. Ya namanya juga minoritas, mungkin dilihat aneh. Mungkin. Dan lebih sering digodain di sini daripada di Jakarta. Tapi di godainnya juga masih dalam tahap, "asslamualaikum" gapernah yang aneh-aneh.
Saya memang pernah baca berita tentang larangan berkerudung di salah satu SMA di Denpasar. Tapi sedang dalam proses.
Menurut saya, apa yang diberitakan di media terlaludibesar-besarkan.
Mungkin ada rencana dari pemerintah Bali untuk melarang berkerudung.
Kalo ada larangan? Ya ga usah kerja di Bali. Ya gausah ke Bali. Wong masih banyak kok tempat kerja yang menunjang tanpa harus mengganggu apa yang sudah diwajibkan.
Nah, sekarang kembali lagi kepada kita sebagai muslim. Bagaimana kita menjelaskan, bagaimana kita berperilaku, bagaimana kita harus tetap menghargai pendapat mereka. Agar kita bisa diterima. Bukan malah menjelek-jelekan, asal bicara, dan melakukan hal-hal yang malah mengurangi nilai kita sebagai muslim. Harusnya perilaku kita menjadi bukti, bahwa kita-berkerudung-bukan ancaman kok untuk mereka jadi ga ada alasan buat melarang :)
Mulai sekarang yang gatau atau taunya cuma setengah-setengah (dan muslim) harus pintar. Jangan asal mengeneralisasi sesuatu. Kalo gatau diem. Kalo tau setengah-setengah jangan banyak omong. Telusuri dulu akarnya, lihat dulu faktanya.
Jangan sampe hal ini memecah karna ke-sok-tauan kita :)
Semoga bisa menjadi referensi yah!
1 comments
"Kalo ada larangan? Ya ga usah kerja di Bali. Ya gausah ke Bali. Wong masih banyak kok tempat kerja yang menunjang tanpa harus mengganggu apa yang sudah diwajibkan."
BalasHapusbuat saya statement di atas sangat menakutkan dan kalau semua berpikir seperti ini chaos saya rasa negara ini. coba kalau di balik, sesajen dilarang di negri mayoritas muslim ini, dan kami berkata "kalau tidak setuju ya gak usah ke negri ini, msh banyak kok negri lain yang mau nerima ibadah situ. ngotor ngotorin tempat aja!" hehee
btw statement di atas menurut saya adalah menggampang kan suatu masalah. apakah anda berpikir untuk warga asli bali yang muslim? apakah mereka harus keluar pulau untuk melaksanakan ibadahnya? atau hanya berpikir untuk diri anda sendiri?
ramainya berita ini di media saya anggap merupakan suatu hal yang positif. tentunya ramai disini dalam arti kata tetap santun dan beretika tanpa memecah belah. menurut saya dengan berita ini setidaknya dapat menekan dan menunjukkan bahwa "bapak ibu yang berwenang di bali, ini INDONESIA loh, negri dengan mayoritas muslim. dengan berita tersebut kami muslim sangat marah dengan pelarangan tersebut, karna hijab merupakan ibadah kami. apakah bapak ibu mau jika ibadah kalian di ganggu?" apalagi setelah berita tersebut banyak protes dan ramai di mana mana, dan yg berwenang di bali akan berpikir dua kali.
kalau bukan kita muslim yg membela hak saudara sendiri siapa lagi?
ingat mumpung negri ini masih mayoritas muslim. jadi kita sebagai muslim masih bisa menunjukkan taringnya jika hak ibadah di ganggu. beda dengan di luar yg mayoritas non muslim yg melakukan pelarangan seperti ini. kita bisa apa? lah wong kita minoritas kok. ya terima terima aja.