Ikhlas, Marketing dan embel-embel Cinta.
09.06.00Dosen marketing gue pernah bilang,
"Marketing itukan jualan, kalian kalo jualan harus yang ikhlas. Berikan apa yang konsumen kalian butuhkan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan apakah yang kalian berikan akan kembali atau engga. karna kalo kalian ikhlas, pasti yang kalian kasih akan kembali dengan sendirinya. Sama seperti, kalo kalian sayang sama pacar kalian ya harus ikhlaskan? Biar apa yang kalian berikan itu akan kembali dengan sendirinya"
terus gue nanya,
"tapi pak, kalo kita rugi gimana?"
"nah itu, kamu ga ikhlas. ketika memikirkan ada kerugian, berarti kalian ga tulus memberikan"
Asik.
dosen marketing berambut putih gue emang paling jago menyelundupkan ilmu marketing dengan cara paling anak muda = menganalogikannya sama pacaran.
Waktu itu gue cuman senyum-senyum aja, tapi sekarang gue membenarkan dalam hati.
ketika gue menemukan masa dimana ketidakikhlasan mengambil kebahagiaan.
Bayangkan, ketika kalian berhubungan, apapun, dengan siapapun, keluarga, Pacar, teman sekalipun, saat kalian merasa rugi dengan apa yang kalian berikan, kalian tidak ikhlas. Dan bahagia? hilang. merasa kah?
Atau ketika kita mulai membandingkan apa yang kita berikan dengan apa yang kita dapat, jelas itu tidak ikhlas. Dan ga ada bahagia. bener ga?
Gue sedang diuji rasa itu, ikhlas. yang belakangan hilang. ikhlas untuk memberi (cinta) tanpa mengharapkan kembali dengan sebesar itu. walaupun kalau cinta ga berbalas berarti ya bertepuk sebelah tangan. Tapi sebetulnya bertepuk sebelah tangan bukannya lebih baik jika kita ikhlas? daripada ga bertepuk sebelah tangan tapi selalau menghitung seberapa besar rasa yang udah di kasih? pengorbanan yang udah die berikan? sampai buta dari ikhlas.
Mungkin kekacauan ini karna dua orang yang mencinta sudah tidak lagi ikhlas.
Mungkin karna sudah lupa makna ikhlas.
Tapi bukannya begitu cara Tuhan mengingatkan? membuat kita lupa agar kita mencoba mengingat apa yang perlu diingat?
Seperti sekarang.
Lupa untuk ikhlas. Agar belajar mengingat rasa ikhlas yang pernah diajarkan Tuhan dulu.
0 comments